Monthly Archives: June 2016

Mobile Broadband Application Coverage Improvement – Kerjasama XL – Facebook and Ericsson

Di Jakarta, berdasarkan survey salah satu media akhir-akhir ini, saat ini 90% anak SMA sdh menggunakan smartphone, dan akan terus berkembang dengan semakin terjangkaunya harga smartphone.  Begitupun anda pasti sudah menggunakan smartphone. Berapa aplikasi yang di install di smartphone anda? 50? 200? Atau lebih? Anda berharap bisa memakai aplikasi itu di mana saja dan kapan saja bukan? Bagaimana kalau untuk membuka aplikasi, ambil contoh aplikasi facebook, anda harus menunggu lebih dari 3 detik? 10 detik? sampai terbukanya seluruh halaman facebook. Siapa yang pertama kali di salahkan kalau aplikasinya berjalan terlalu lambat? Operatornya kan? Itulah salah satu tantangan Operator dalam untuk memberikan layanan mobile internet dalam era smartphone ini.

Pertumbuhan smartphones dan aplikasi (apps) yang pesat memberikan tantangan ke network operators seperti XL-Axiata karena terjadi perubahan yang significant dalam bagaimana kita melakukan planning, design dan optimisasi jaringan di bandingkan dengan layanan voice & SMS.  Pada voice dan SMS services, network key performance indicators (KPI) bisa di katakan hampir sama dengan Experience yang di alami pelanggan, sedangkan di mobile internet services yang lebih application centric, network KPI tidak selalu sama dengan real end users quality of experience.

KPI blog

Yang paling mudah kita lihat sebagai contoh adalah ketika menelpon dan tiba2 terputus,  kita bisa langsung melakukan redial tanpa terus melihat layar telpon bukan? Tetapi di layanan data dengan aplikasi tertentu bila terjadi putus sambungan, akan tetap kita lihat layar dan kita rasa lambat sekali bukan?

Kemudian kita menuju perbandingan Apps coverage, Apps coverage adalah area di dalam coverage network operator di mana kita bisa memakai aplikasi tertentu dengan kualitas yang bagus. Di layanan suara karena kebutuhan payload dan signalling yang di perlukan relative kecil, hampir bisa di katakan network coverage adalah sama dengan apps coverage. Sedangkan di layanan mobile internet, network coverage tidak bisa serta merta di katakan sama dengan apps coverage, karena masing2 apps bisa berjalan smooth tergantung dengan semua aspek end to end dari performansi jaringan baik dari sisi quality, capacity dan coverage di sisi radio sampai dengan core network bahkan ke apps server di internet layer.  Dan juga di tentukan oleh typical application design dan handset type (high end vs low end).

apps coverage

Apps coverage sering di jadikan dasar oleh customer kita untuk menyatakan jaringan network operator itu bagus atau tidak, dan kadang bisa juga utk menjugde applikasi berjalan dengan bagus atau tidak dengan membandingkan dengan aplikasi lain yang hampir serupa.

Memberikan layanan easy to use mobile internet selalu akan melibatkan 3 komponen utama yaitu, networks, devices dan apps. Jadi optimisasi app coverage penting untuk semua kedua pihak baik dari operators dan apps developers. Tetapi memang tidak mudah utk mengukur quality of experience (QoE) dari end users di dalam app centric services. Jadi bila kita tidak bisa mengukurnya, bgmn kita bisa melakukan improvement?

Berdasarkan fakta2 di atas, Facebook, Ericsson  and XL melakukan joint project sejak awal tahun 2014 untuk memonitor, melakukan analisa dan improvement facebook users experience di live network XL Axiata. Ericsson membuat metodology pengukuran parameter2 penting network secara end to end yang berkaitan langsung dengan app coverage, facebook membuat test agent facebook application yg mensimulasikan typical interaksi pengguna Facebook (typical real users case, – download template, satu atau multi-picture download dan single picture upload), dan kemudian di implementasikan di jaringan XL Axiata.

testagent

Facebook test agent ini akan mengirimkan Quality of Experience pelanggan ke server utk di analisa dan di korelasikan dengan network statistics.

Pada saat bersamaan, Ericsson and XL Axiata mengumpulkan parameters jaringan di area test, dengan data2 ini engineer kita melakukan korelasi antara data network dan data applikasi utk membangun metode identifikasi permasalahan jaringan dan cara optimisasinya.

apps coverage 2

Menggunakan dua jenis handset, i.e. High End Samsung Galaxy S4 & Low End Samsung Galaxy Young, 3 clusters di pilih sebagai simulation test area, yaitu gambir CBD mewakili dense urban areas, Bintaro Residential sebagai Sub Urban Areas dan Tigaraksa mewakili typical rural area. 3 type measurement yaitu stationery, moving drivetest dan stationery di hotspot area dilakukan untuk mendapatkan data data yang di perlukan untuk analisis.

areas

Dari hasil korelasi antara Facebook test agent log samples dengan network statistics pada lokasi dan waktu yang sama, kita bisa identify network issue dari mulai radio network, DNS server dan sampai dengan CDN yang di miliki oleh facebook.

correlated

Ini adalah benar2 sesuatu yang baru bagi kami dalam melakukan OUTSIDE IN network optimization approach, bekerja berdasarkan real app user experience dan bukan hanya network statistic data.

Hasilnya live test ini secara significant kita bisa rasakan yaitu:

time to content

1.Facebook time to contents improve close to 70% dengan consistency experience yang lebih baik dari sebelumnya, di rata2 dari 3s menjadi 1.2s.

2.Dan application coverage meningkat rata2 dari 62% menjadi 85%.

 

Sedangkan untuk facebook upload time significant improvement di rasakan di gambir dense urban CBD area yaitu meningkat sebanyak 58% utk high end handset.

upload FB

Di dalam project ini kita juga bisa mengidentifikasi pengaruh dari device capabilities terhadap user experience, high end device samsung galaxy S5 secara konsistent memiliki time to content 60-70% lbh cepat di bandingkan galaxy Y. Untuk upload picture, high end device memberikan 5 kali lebih cepat di bandingkan low end device.

terminal FB

Sebagai summary dari hasil kerjasama yang dilakukan oleh facebook pertama kali didunia bersama dengan operator dan vendor telecommunication secara bersamaan:

1.Significant Improvement of Facebook user experience has been achieved in all three clusters as a results of Facebook – Ericsson – XL Axiata Project:

Facebook App Coverage improved 40-70%

Facebook Time to Content improved up to 80%

Facebook Upload Time improved up to 50%

2.Handsets capability determines the user experience

More than double as fast time to content experience using high-end device compared to low end device. Up to 5 times better Facebook upload experience with a high-end device compared to a low-end device

3.E2E Network Key Parameters for Optimization have been identified and executed – model for further nationwide network improvement (on-going Q3-Q4/2014)

4.Proven Methodology for both App Developers, Network Operators, Network Solution Providers on how to optimize Customer Experience in using Mobile Apps.

Semua aktifitas POC dan hasilnya ini sudah di dokumentasikan di following web page:

 

http://internet.org/press/improving-app-and-network-performance-in-Indonesia 

 

 

Mengapa banyak transformasi organisasi gagal?

         Untuk tetap kompetitif dengan situasi pasar yang sangat menantang, banyak organisasi yang melakukan transformasi untuk tetap memiliki relevansi dengan perkembangan di bidang industrinya dan pastinya untuk mencapai tujuan bisnisnya. Tranformasi biasanya terlihat dimulai dari perubahan struktur organisasi yang disesuaikan dengan upaya untuk melakukan eksekusi strategi yang dipilih oleh perusahaan. Tetapi banyak usaha transformasi itu gagal untuk mencapai tujuannya serta banyak efek samping yang tidak diinginkan salah satunya adalah banyak kehilangan talenta-talenta yang merasa tidak cocok lagi dengan perubahan struktur yang dilakukan, dan akhirnya tidak mencapai tujuan transformasi itu sendiri.  Apakah yang salah?

          Di perusahaan yang saya pernah bekerja, pada saat mulai melakukan transformasi di tahun 2010, pimpinan puncak di HQ memanggil world class speaker –Manuel Knight yang ahli dibidang top performing team development, effective leadership dan organization that deliver top results – untuk melakukan seminar yang dihadiri oleh para wakil cabang perusahaan dari beberapa negara termasuk Indonesia.

Manuel Knight membawakan seminarnya dengan gaya yang lucu tetapi sangat mengenai sasaran dari tujuan organisasi untuk melakukan transformasi. Dia memiliki framework kombinasi “structure and then culture” untuk melakukan transformasi perusahaan sebagai berikut:

Blogs culture

Berikut ini adalah penjelasan definisi masing-masing bagian dari structure dan culture diatas.

Picture blogs 2

             Menurut Manuel Knight, dalam melakukan transformasi, perusahaan harus melakukan kombinasi perubahan stucture kemudian harus diikuti dengan perubahan culture yang diperlukan untuk melakukan eksekusi strategi yang sudah dipilih oleh perusahaan. Structure terdiri dari 4 area yaitu policy, process, structure dan strategy yang dapat dilakukan perubahan sangat cepat (bahkan bisa hanya dalam satu malam!) dan hanya ada dua pilihan bagi individu didalam perusahaan untuk memilih yaitu execute atau evacuate!  Sedangkan perubahan culture adalah sebuah slow system yang tidak akan mungkin dilakukan hanya dalam satu malam dan harus dilakukan oleh mayoritas karyawan. Untuk melakukan perubahan culture menjadi budaya perusahaan yang diinginkan untuk mendukung arah transformasi diperlukan ritual, symbols, values dan heroes yang sesuai dengan budaya yang diinginkan. Menurut Manuel Knight, banyak perusahaan yang gagal dalam transformasi karena hanya fokus didalam merubah structure tetapi tidak melakukan upaya yang sungguh-sungguh dalam membuat perubahan budaya dengan memiliki sistem yang sistematis dalam melakukan ritual, memberikan simbol-simbol, mencontohkan values dan memiliki beberapa tokoh perubahan budaya (heroes) sesuai budaya yang diinginkan untuk mencapai perubahan transformasi yang diinginkan. Lebih parahnya banyak juga perusahaan yang gagal melakukan transformasi meskipun sudah melakukan upaya perubahan budaya/culture karena memilih culture yang sebenarnya tidak sesuai atau bahkan bertentangan dengan perubahan structure yang dilakukan. Beliau mengambil padanan dengan istilah beliau yang sangat populer yaitu “If you want corn, plant corn, don’t plant onion” – some leaders want corn but plant onion,and get mad when onion grows. Manuel memberikan contoh perusahaan yang akhirnya bangkrut meskipun sudah melakukan transformasi dibidang structure dengan biaya yang mahal karena salah memilih pembentukan budaya yang diinginkan untuk mendukung upaya transformasinya. Jadi anda sebagai leader, jangan salah memilih budaya yang akan anda bentuk di perusahaan anda, pilihlah yang benar-benar sesuai dengan arah perubahan yang diinginkan jangan sampai berlawanan…….

Sebagai penutup seminar, beliau menekankan bahwa Structure is chassis, Culture is Engine. Tugas leader adalah memastikan ada interaksi yang kuat antara perubahan structure dan culture yang mendukung arah transformasi yang diinginkan sehingga akan membawa performansi perusahaan yang lebih baik.

“Leadership Job in time of change is to ensure that there is interaction b/w the structure and the culture, the better interaction will lead to better performance”

 

PENATAAN FREKUENSI 1800 MHz UNTUK PERCEPATAN LAYANAN 4G/LTE MENUJU GENERASI DIGITAL INDONESIA

LATAR BELAKANG

Frekuensi adalah sumber daya alam yang terbatas dan digunakan oleh penyelenggara telekomunikasi untuk memberikan layanan panggilan suara, pesan pendek/sms dan koneksi internet ke pelanggan. Frekuensi 1800 MHz adalah salah satu frekuensi berlinsensi yang dimiliki oleh empat penyelenggara telekomunikasi selular (operator) di Indonesia yaitu PT XL Axiata, PT Telekomunikasi Selular, PT Indosat dan PT H3I.  Lebar pita frekuensi yang tersedia di frekuensi 1800 MHz sebesar 75 MHz adalah lebar frekuensi terlebar yang ada di bandingkan dengan frekuensi lainnya yang di miliki oleh empat operator di atas. Frekuensi yang lainnya ada di 900 MHz (lebar pita hanya 25 MHz) dan 2100 MHz (lebar pita sebesar 60 MHz), sehingga frekuensi 1800 MHz sangat ideal untuk memberikan layanan pita lebar (mobile broadband) sesuai dengan agenda yang dicanangkan oleh pemerintah Indonesia dalam Rencana Pita Lebar – Indonesia Broadband Plan dengan menggunakan teknologi 4G/LTE. Faktor pendukung lainnya adalah ketersediaan 4G/LTE handset yang paling banyak digunakan juga berada  di frekuensi 1800 MHz. Di akhir tahun 2014, 4G/LTE sudah mulai digelar secara resmi di Indonesia dengan frekuensi 900 MHz, tetapi karena keterbatasan lebar pita 900 MHz, 4G/LTE hanya dioperasikan maksimum di lebar pita 5 MHz sehingga kecepatannya terbatas. Sedangkan di pita 1800 MHz, operator memiliki frekuensi yang lebih lebar minimum 10 MHz dan maksimum 22.5 MHz sehingga terlihat jelas peluang untuk memberikan layanan pita lebar (mobile broadband) yang lebih maksimal kepada pelanggan. Beberapa operator juga sudah melakukan uji lapangan terbatas dengan 1800 MHz untuk memastikan bahwa potensi frekuensi 1800 MHz memang sangat besar untuk memberikan pelayanan mobile broadband yang maksimal ke pelanggan.

Untuk memberikan kemampuan maksimal dari 4G/LTE dibutuhkan alokasi spektrum yang berkesinambungan untuk masing-masing operator, akan tetapi sayangnya alokasi spectrum di 1800 MHz masih terpisah-pisah sehingga hal ini juga menjadi faktor ketidakefisienan dalam investasi perangkat radio pemancar (BTS) oleh para operator. Alokasi frekuensi yang terpisah-pisah ini juga membatasi potensi untuk memberikan layanan ke pelanggan dari sisi maksimum kecepatan data yang bisa dicapai. Bahkan untuk layanan teknologi 2G/GSM yang menggunakan frekuensi 1800 MHz diperlukan rancangan frekuensi planning yang sangat specifik dan tinggi kompleksitasnya.

gambar 1

Gambar 1. Alokasi Spektrum yang terpisah-pisah membatasi potensi layanan 4G/LTE 1800 MHz

Dengan kenyataan yang dihadapi ini, Ditjen SDPPI bersama dengan para operator sepakat untuk memiliki pandangan yang sama untuk menata alokasi spektrum 1800 MHz supaya alokasi frekuensi untuk masing-masing operator akan berkesinambungan. Penataan kembali susunan alokasi diperlukan karena akan memberikan beberapa keuntungan sebagai berikut:

  • Investasi perangkat BTS yang lebih efisien
  • Memberikan kemampuan maksimal ke masing masing operator dari lebar pita frekuensi yang di miliki untuk memberikan layanan kepada pelanggan khususnya layanan pita lebar (mobile broadband) dengan teknologi 4G/LTE

Namun untuk melakukan penataan ini bukan hal yang mudah, karena seluruh frekuensi 1800 Mhz ini sudah di pakai untuk memberikan layanan di teknologi 2G/GSM 1800 MHz yang utamanya di pakai untuk layanan suara dan pesan singkat (SMS) dengan jumlah pelanggan yang masih sangat banyak (puluhan juta). Penataan ini juga akan melibatkan 4 operator dengan jumlah BTS (base station receiver system) sebanyak 68,405 BTS, jumlah yang sangat banyak dan tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Hal ini sangat menantang karena untuk melakukan penataan ulang beberapa prinsip pokok di bawah ini harus di perhatikan dan di pastikan:

  • Minimalisir terjadinya gangguan layanan ke pelanggan 2G/GSM baik secara kualitas, lokasi (region), durasi dan kapan (waktu) gangguan akan terjadi
  • Minimalisir biaya dan waktu yang dibutuhkan untuk penataan ulang spektrum 1800 MHz ini (national efficiency)
  • Minimalisir kompleksitas di proses perencanaan dan eksekusi penataan ulang
  • Minimalisir kerugian di sisi pelanggan dan sisi operator karena terjadinya gangguan layanan
  • Sinkronisasi pelaksanaan penataan ulang antar operator untuk menghindari interferensi dari satu operator ke operator lainnya pada saat perpindahan alokasi frekuensi khususnya di daerah batasan klaster

 

PROSES DALAM PENATAAN KEMBALI 1800 MHZ MENUJU LAYANAN 4G/LTE

Ide penataan kembali spektrum 1800 MHz sudah dimulai sejak beberapa tahun yang lalu oleh beberapa pihak baik dari sisi operator dan pemerintah,  dan terus mengerucut. Pada akhir tahun 2014, diskusi dengan pemerintah oleh beberapa operator semakin intensif untuk memastikan bahwa penggelaran teknologi mobile broadband 4G/LTE 1800 MHz bisa terlaksana segera di tahun 2015.  Memang awalnya muncul kekuatiran akan terganggunya layanan suara dan pesan di 2G/GSM pada frekuensi 1800 MHz karena masih padatnya pelanggan yang menggunakan layanan ini oleh sebagian operator.  Ditjen SDPPI menjembatani diskusi antar operator ini karena masing-masing operator memiliki usulan dan kekuatiran yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi dan strategi perusahaan masing-masing. Setelah melalui serangkaian pertemuan yang sangat intensive dimulai di awal tahun 2015, dengan semangat yang sama untuk bisa memberikan layanan 4G/LTE kepada masyarakat Indonesia di tahun 2015 dengan lebih baik di spektrum 1800 MHz, akhirnya di capai kata sepakat pada akhir bulan April 2015. Kesepakatan antar operator untuk melakukan penataan kembali susunan alokasi frekuensi 1800 MHz akan dimulai pada tanggal 4 Mei dan berakhir pada tanggal 23 November 2015 (hanya sekitar 7 bulan) untuk seluruh Indonesia dan dituangkan dengan penerbitan PM 19 Tahun 2015.

gambar 2

Gambar 2. Kesepakatan tentang metode dan waktu penataan ulang tercapai secara bulat di final meeting antar PIC operator di Yogjakarta pada tanggal 28 April 2015 – duduk paling depan dari kiri kekanan – Gustiansyah Wilson – PIC H3I, Ivan Permana – PIC Telkomsel, Denny Setiawan – Ditjen SDPPI – Rahmadi Mulyohartono – PIC XL Axiata, Joko Riswadi – PIC Indosat Ooredoo

Metode penataan yang disepakati adalah penataan bertahap (step-wise) yang akan menyusun ulang alokasi frekuensi 1800 MHz dengan 3 tahapan dalam setiap 2 minggu sebagai berikut:

gambar 3

Gambar 3. Tahapan Penataan untuk menyusun ulang alokasi frekuensi 1800 MHz

Penataan dilakukan bertahap dari area dengan jumlah pelanggan 2G/GSM terkecil menuju area dengan pelanggan 2G/GSM yang banyak. Kita membagi wilayah Indonesia menjadi 42 klaster sebagai berikut:

gambar 4

Gambar 4. Pembagian Klaster Penataan Ulang Spektrum 1800 MHz di seluruh Indonesia

Pelaksanaan penataan ulang dimulai di klaster Maluku dan Maluku Utara pada tanggal 4 Mei. Penataan ulang ini dilakukan harus dalam waktu tengah malam hari untuk mengurangi dampak gangguan layanan ke pelanggan. Untuk memudahkan koordinasi antar operator dan manajer proyek dari Ditjen SDPPI, online War-room antar operator dibuka dan dipimpin oleh proyek manager SDPPI sehingga bisa terjadi interaksi yang kondusif guna memastikan tidak adanya hambatan dalam proses eksekusi penataan ulang dan setelahnya kondisi layanan tetap terjamin.

gambar 5

Gambar 5. Koordinasi Penataan Secara Online Antar Operator Di pimpin oleh SDPPI

Dengan koordinasi yang baik dan kondusif, setelah berjalan 5 bulan pelaksanaan penataan (setiap minggu dua malam penataan), semua operator dan Ditjen SDPPI melakukan review apa yang sudah berjalan dengan baik dan apa yang masih perlu pembenahan kembali. Pada bulan Oktober 2015, pada pertemuan dengan para PIC operator dan Ditjen SDPPI dicapai kesepakatan untuk melakukan percepatan di sisa klaster berkat pengalaman yang didapatkan dalam pencapain penataan antara bulan Mei sampai bulan  Oktober 2015 sebanyak 85% dari total klaster (36 klaster dari 42 klaster).  Akhirnya dengan ijin Allah SWT, penataan ulang spektrum 1800 MHz yang melibatkan 4 operator dan Ditjen SDPPI bisa kelar dengan baik pada tanggal 16 November atau satu minggu lebih awal dari rencana awal waktu penataan yaitu tanggal 23 November 2015. Penataan ulang terakhir adalah di klaster Jakarta Inner dengan jumlah pelanggan terbanyak dan jumlah BTS terpadat yaitu 11,055 BTS beroperasi di 1800 MHz milik 4 operator.

 

HASIL PENATAAN ULANG ALOKASI FREKUENSI 1800 MHz

Dari penataan ulang yang bisa di bilang sangat cepat dari waktu yang diprediksi sebelumnya oleh para pengamat telekomunikasi yaitu antara 1 tahun sampai 3 tahun,  Alhamdulillah berkat koordinasi yang baik antara Ditjen SDPPI dan para PIC operator, team eksekusi penataan ulang baik dari operator dan rekanan vendor, kita bisa menyelesaikannya hanya dalam waktu kurang dari 7 bulan (4 Mei – 16 November 2015), sesuatu pencapaian yang luar biasa. Tetapi yang lebih penting adalah dibukanya kesempatan untuk menggelar layanan 4G/LTE dengan lebar pita alokasi frekuensi maksimum sesuai alokasi masing-masing operator sebagai berikut:

gambar 6

                   22.5 MHz                          10 MHz             20 MHz                                  22.5 MHz

Gambar 6. Hasil Penataan Ulang untuk memaksimalkan penggelaran layanan 4G/LTE

Dengan hasil penataan ulang yang memberikan potensi maksimum pemanfaatan spektrum 1800 MHz oleh masing-masing operator, mulai bulan Juni 2015 sudah di mulai Uji Layak Operasi (ULO) untuk LTE 1800 MHz oleh beberapa operator. Penggelaran 4G/LTE bisa di mulai setelah satu klaster selesai dilakukan penataan. Para operator tidak menunggu panjang, begitu selesai penataan masing masing operator menggelar layanan 4G/LTE sesuai dengan strategi perusahaan masing-masing. Pada tanggal 6 Juli 2015, Menkominfo meresmikan secara resmi penggelaran 4G/LTE yang di tandai dengan peluncuran layanan 4G/LTE 1800 MHz oleh 4 operator secara serentak.

Gambar 7

       Gambar 7. Launching 4G/LTE 1800 Secara Serentak Oleh Semua Operator Dipimpin oleh Menkominfo pada tanggal 6 Juli 2015

Saat ini kita bisa lihat semua operator sudah menggelar layanan 4G/LTE dengan lebar pita yang maksimum sesuai spektrum yang dimiliki masing-masing operator dan besarnya pelanggan 2G/GSM yang masih menggunakan frekuensi 1800 MHz. Dengan spekrum yang berkesinambungan sebesar 10 MHz, 4G/LTE bisa memberikan kecepatan layanan maksimum sebesar 75 Mbps dan untuk 15 MHz akan memberikan kecepatan maksimum sebesar 100 Mbps. Dengan pengguna 4G/LTE yang semakin meningkat dengan pesat seiring dengan penggelaran jaringan 4G/LTE 1800 MHz oleh operator, hal ini akan mempermudah pencapaian Indonesia Broadband Plan (IBP) yang dicanangkan oleh pemerintah.  Hal ini  juga akan mempercepat pencapaian masyarakat dengan ekonomi digital (digital economy) yang memiliki potensi  130 Milyar US Dollar pada tahun 2020 yang akan menjadikan Indonesia menjadi negara dengan digital economy terbesar di ASEAN pada tahun 2020. Saat ini sudah kita lihat betapa banyaknya layanan digital yang bisa dinikmati oleh masyarakat guna menunjang percepatan pembangunan ekonomi nasional.

 

 

                                                                                 RAHMADI MULYOHARTONO

                                                                                 PIC Penataan 1800 MHz – PT XL-Axiata Tbk